Disaster Recovery Data pada Kejadian Kebakaran Gedung

Menurut data dari https://drivesaversdatarecovery.com/, terdapat tiga aspek untuk mengetahui apakah data yang tersimpan pada benda elektronik (computer, hardisk, server) yang terdapat pada satu tempat yang mengali kebakaran akan dapat diselamatkan atau tidak. Ketiga aspek tersebut adalah adalah Suhu saat terjadinya kebakaran, lamanya kebakaran serta unsur kimia yang digunakan untuk memadamkan kebakaran.

  • Dalam hal suhu, pada kasus kebakaran bangunan maka rata-rata panas yang terdeteksi adalah mencapai angka 1.000 derajat Fahrenheit (F). Sementara untuk kasus kebakaran hutan, panas yang terdeteksi bisa mendekati angka 1.800 atau bahwa mencapai angka tinggi hingga 3.000 derajat. Selain panas yang langsung dihasilkan oleh sumber kebakaran, faktor panas lainnya juga dapat berasal dari unsur panas radiasi. Semua benda yang terkena langsung api akan mengalami suhu yang jauh lebih tinggi daripada benda lain di dalam area kebakaran. Karenanya benda yang terbakar langsung oleh api akan mengalami kerusakan yang lebih besar, sementara benda yang hanya terkena  panas radiasi  biasanya relative akan mengalami tingkat kerusakan yang lebih sedikit.
  • Dalam hal lamanya kebakaran, waktu yang diperlukan untuk memadamkan kebakaran akan menentukan tingkat kerusakan benda yang terbakar. Semakin lama nyala api maka akan semakin panas suhu yang dihasilkan.
  • Bahan yang digunakan untuk memadamkan api dan panas sangat berpengaruh terhadap sisa kebakaran yang dihasilkan dalam sebuah peristiwa kebakaran. Air, bahan kimia, kotoran akan menjadi aspek lain dari kerusakan tambahan yang dialami oleh objek yang terbakar.

Dalam kontek sebuah kebakaran, maka selain suhu, lama dan bahan untuk memadamkan kebakaran, aspek lain yang juga berpengaruh terhadap kerusakan objek yang terbakar adalah bahan/unsur  yang digunakan oleh bahannya itu sendiri. Salah satu bahan yang paling mudah untuk terbakar dan berakibat pada tingkat kerusakan yang tinggi adalah bahan yang terbuat dari plastic. Sifat dasar dari bahan plastic adalah mudah meleleh. Sayangnya hampir semua unsur yang termuat pada sebuah computer/laptop terdiri dari 17-40% berasal dari komponen plastic. Plastik umumnya akan cepat meleleh pada suhu mendekati 500 derajat Fahrenheit.

Selain plastic,bahan lain yang mudah untuk terbakar adalah karet. Dalam hal ini beberapa media elektronik tidak lepas dari unsur karet seperti Hardisk drive dan SSD. Unsur karet ini umumnya digunakan sebagai pelindung antar komponen dalam alat elektronik. Karet memiliki daya tahan lebih tinggi, mampu bertahan hingga suhu 620 derajat Fahrenheit.

Selain bahan plastic dan karet, bahan lainya yang umumnya termuat pada benda-benda elektronik adalah berbagai jenis logam. Jenis bahan logam ini termuat pada casing, chip, circuit, konektor dll. Bahan logam umumnya dapat bertahan hingga suhu mendekati 2500 derajat fahrenheit.

Bila dalam sebuah kejadian kebakaran ternyata terdapat komputer yang menjadi objek benda yang terbakar, maka untuk menentukan apakah data-data pada komputer tersebut masih bisa diselamatkan atau tidak bisa ditinjau dari beberapa aspek berikut:

  • Segel penutup objek masih dalam keadaan baik. Kondisi ini untuk memastikan bahwa panas yang tinggi serta bahan untuk pemadaman api tidak sampai merusak komponen yang dilindungi oleh segel tersebut.
  • Apakah komputer dalam kondisi hangus atau meleleh atau tidak? Jika komputer meleleh, namun tidak terkena langsung oleh api (hanya terkena panasnya radiasi api) maka ada kemungkinan besar data akan dapat dipulihkan kembali.
  • Sekalipun komputer terlihat meleleh atau hangus, namun yang terpenting adalah kondisi harddisk dari computer itu sendiri. Untuk menemukan hard drive di dalam komputer dan masih utuh tanpa mengurangi segel karet yang menahan casing, ada kemungkinan besar pemulihan data berhasil.
  • Apakah stiker pabrikan terlihat? Jika masih ada stiker pabrikan pada hard drive atau komponen internal lain dari komputer atau perangkat, itu merupakan tanda bahwa panas yang menimpa benda tersebut tidak cukup ekstrim untuk menyebabkan kehilangan data permanen dan data Anda dapat dipulihkan.
  • Apakah chip dapat diidentifikasi? Jika dapat menemukan chip maka drive komputer kemungkinan juga masih utuh dan dapat dipulihkan. Hal ini berlaku untuk chip pada motherboard, juga pada SSD atau jenis memori flash lainnya.
  • Sentuhan objek yang terbakar dengan komponen air dan kimia. Pemulihan data dari objek yang hanya terkena air dan bahan kimia masih sangat mungkin untuk dipulihkan, namun waktu penanganan akan menentukan keberhasilan tersebut. Salah satunya adalah kondisi korosi yang dialami oleh objek karena terkena air dan bahan kimia dalam kurun waktu tertentu.

Semua proses penanganan untuk pemulihan data dari objek yang tebakar harus ditangani secara professional oleh mereka yang memiliki keahlian khusus pada bidang ini. Setiap kasus pemulihan data dari objek yang terbakar sifatnya adalah unik dengan perlakukan yang khusus untuk tiap objek berbeda dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.  Meskipun bukan tidak mungkin, namun computer/hard drive/ yang rusak akibat kebakaran proses pemulihan datanya haruslah ditangani oleh mereka yang berpengalaman, untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada perangkat.

Pada sisi lain, untuk antisipasi kehilangan data pada kasus-kasus kebakaran kedepannya, maka salah satu solusi yang standard pada era saat ini adalah memanfaatkan cloud storage untuk semua penyimpanan dokumen. Dalam kasus semua computer rusak secara fisik sehingga tidak memungkinkan lagi untuk direcovery menggunakan pendekatan fisik, maka penyimpanan data pada layanan cloud storage akan menjadi solusi terhadap recovery data. Data-data yang telah telah tersimpan pada cloud dapat segera dipulihkan kembali menggunakan akun cloud yang sama namun dengan media komputer yang baru.

Secara umum, issue pemulihan terhadap data-data digital yang menjadi objek kebakaran menjadi bagian dari System Disaster Recovery. Resiko terhadap kebakaran adalah bagian dari resiko yang harus diantisipasi sebagaimana resiko terjadinya bencana alam ataupun serangan malware terhadap system computer. Momen kebakaran Gedung Kejaksaan Agung ini menjadi remainder kepada semua pengelola system terhadap strategic planning yang telah diterapkan oleh institusinya masing-masing dalam menghadapi kasus disaster recovery khususnya kebakaran sebuah Gedung. Pada prakteknya implementasi dari disaster recovery adalah dalam bentuk perencanaan kontingensi dalam menghadapi situasi bencana dan kejadian luar biasa lainnya, dengan penempatan perangkat TI, sistem, aplikasi dan data sebagai backup (cadangan) pada tempat atau lokasi yang terpisah. Sejauh ini memang belum ada release tentang bagaimana penjelasan dari konsep disaster recovery system untuk semua data dan system yang berada pada lingkungan Kejaksaan Agung. Semoga saja, walaupun insitusi hukum namun  sytem IT nya ditangani secara professional sehingga keraguan terhadap hilangnya data-data kasus/berkas yang sedang ditangani oleh Kejaksaan Agung tidak terjadi.

Yogyakarta, 25 Agustus 2020

Dr. Yudi Prayudi

Pusat Studi Forensika Digital

Jurusan Informatika

Universitas Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.