InsightID dan Fenomena Buzzer

Laporan yang direlease oleh Facebook tentang keputusan mereka untuk menghapus 145 akun palsu, terdiri dari 69 akun pribadi dan 42 halaman di Facebook, serta 34 akun di Instagram yang dinilai menyebarkan informasi yang manipulatif terkait issue Papua dan kemerdekaan Papua Barat, membuka mata kita semua bahwa industri buzzer adalah benar adanya. Bahkan dalam laporan tersebut diperkirakan terserap dana hingga 300.000 dolar AS atau sekitar Rp 4,2 miliar untuk kepentingan iklan yang terkait dengan issue tersebut.

Buzzer, dalam arti yang positif sebenarnya adalah bentuk lain dari seorang influencer atau rain maker, yaitu
seseorang yang mampu mempengaruhi follower (bisa jadi pengunjung, pembaca, teman, fans, follower twitter-nya), sehingga memberikan efek buzz di media social tersebut. Mempengaruhi dalam aspek informasi, membentuk oponi, trend sehingga di ikuti oleh yang lainnya. Efek Buz tersebut dapat terlihat dari banyaknya like/dislike, forward, download dari konten yang di sharing olehnya.

Menurut salah satu pakar Bahasa yaitu, Ivan Lanin, mengartikan istilah ‘buzzer’ ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘pendengung’, sementara istilah ‘influencer’ sendiri diartikan sebagai ‘pemengaruh’. Maka karakteristik Buzzer harus “cerewet”, aktif melakukan posting, aktif menanggapi agar semakin banyak pengikutnya dan semakin banyak pengaruhnya. Sementara influencer punya modal follower karena memang ada personalitas diri yang dikenal luas masyarakat, misalnya artis, tokoh, olahragawan dll.

Dalam arti negative, buzzer adalah akun tertentu, yang umumnya bersifat palsu (fake account) yang berusaha untuk membentuk atau memainkan opini tertentu di masyarakat melalui informasi yang sifatnya mengundang perdebatan sehingga menaikkan traffic, ataupun justru menjadi penyebab sumber diinformasi/ misinformasi dalam upaya untuk membentuk kelompok pro atau kontra terhadap suatu issue di masyarakat. Dalam konteks politik, buzzer akan meramaikan media sosial dengan tujuan menyebarkan propaganda pro atau anti pemerintah atau partai politik, menyerang kampanye, mengalihkan isu penting, polarisasi, dan menekan pihak yang berseberangan.

Buzzer dan Influencer adalah keniscayaan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan media social untuk kepentingan kampanye digital. Keduanua sama-sama dibutuhkan untuk meraih hati banyak pengguna sosial media serta untuk efektivitas tercapainya target kampanye. Laporan secara khusus tentang fenomana buzzer di Indonesia termuat dalam laporan penelitian yang di keluarkan oleh Universitas Oxford yang bertajuk The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation.

Dalam kasus InsightID ini, walaupun belum ada klarifikasi yang jelas tentang siapa sesungguhnya penangung jawab dari InsightID serta bagaimana profil dari aktivitasnya, namun dari laporan facebook tersebut mengindikasi bahwa InsightID telah memainkan aktivitas sebagai buzzer dalam arti negative. Konon terdapat puluhan akun yang dikelola, halaman yang dihubungkan dengan institusi ini.

Buzzer sebenarnya sebuah bisnis jasa, sangat bergantung dari siapa yang menjadi kliennya. Bila laporan tentang 300.000 dolar AS atau sekitar Rp 4,2 miliar terdeteksi untuk aktivitas iklan yang dikelolanya, maka sebenarnya ada angka yang sama atau bahkan lebih besar untuk kepentingan operasional dari jasa tersebut. Berbeda dengan jasa/ pekerjaan dalam dunia konvensional yang mengenal tempat dan jam kerja, bekerja dalam jasa buzzer tidak mengenal tempat dan jam kerja, harus standby 24 jam, any time any where. Hal ini tentunya berdampak pada cost yang diperlukan. Bahkan secara teknis, akun buzzer tidak hanya dijalankan oleh manusia, namun juga dijalankan oleh mesin computer dalam bentuk bot dan cyborg. Karena itu tidaklah heran bila ada informasi yang menyebutkan bahwa cost untuk menjalankan jasa sebagai buzzer bisa mencapai angka 50 juta/orang, tergantung dari cakupan serta akun dan konten yang dikelolanya.

Bila mau ditelusur, sebenarnya InsightID ini hanyalah satu sekian banyak industri dengan jasa sebagai buzzer. Sebagai industri jasa, maka klien sangat menentukan keberlangsungan bisnisnya. Masalahnya adalah, apakah klien yang bertujuan negative dengan dana yang besar akan tetap diterima dengan  pertaruhan idealisme dalam hal nasionalisme dan mempertahankan NKRI. Bila hanya sekedar bisnis, maka jasa buzzer adalah sarana empuk bagai para pendukung disintegrasi NKRI untuk menjalankan misinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.