Sinergi Siber Nusantara

Pengantar

Digital life style telah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini. Hal ini berdampak pada munculnya era jurnalistik baru yang memungkinkan berbagai bentuk komunikasi baru dengan jangkauan yang lebih global dan cepat. Selain dampak positif berupa munculnya kesadaran dari individu untuk menjadi jurnalis berita dengan dukungan teknologi yang semakin mudah dan murah, namun pada sisi lain memungkinkan pula untuk berkembangnya berita yang mengarah pada disinformasi dan hoax yang secara populer disebut sebagai “berita palsu”. Berita sejenis ini dengan mudah mengarah pula pada konten yang sifatnya pada ujaran kebencian. Tidak salah apabila era digital saat ini juga dikenal dengan “The Age of Disinformation”.

Pada era demokrasi yang memberikan ruang untuk kebebasan berpendapat pada setiap warganya, maka untuk menjaga agar iklim demokrasi tetap sehat dan konstruktif perlu adanya peran dari pemerintah dan masyarakat luas untuk bekerja sama dalam memberikan solusi yang tepat untuk hal itu. Dalam hal ini, bentuk peran tersebut antara lain adalah :

  • Pemerintah, pemerintah harus menggendakan program-program ke arah literasi berita dan jurnalisme profesional yang kuat di kalangan masyarakat luas.
  • Industri Berita (News), sementara industri berita (News) harus menyediakan jurnalisme berkualitas tinggi untuk membangun kepercayaan publik dan mengoreksi berita palsu dan disinformasi berita yang telah beredar.
  • Perusahaan teknologi harus berinvestasi dalam alat yang mengidentifikasi berita palsu, mengurangi insentif keuangan bagi mereka yang mendapatkan keuntungan dari disinformasi, dan meningkatkan akuntabilitas online.
  • Institusi pendidikan harus membuat program edukasi kepada masyarakat luas tentang literasi digital khususnya dalam hal hoax, disinformasi, fake news, ujaran kebencian. Akhirnya, individu harus mengikuti keragaman sumber berita, dan menjadi skeptis terhadap apa yang mereka baca dan tonton.
  • Individu dan masyakarat, harus dapat menjadi agent terhadap upaya untuk melakukan edukasi kepada komunitas terdekatnya dalam filtering terhadap hal yang mengarah kepada  hoax, disinformasi, fake news dan ujaran kebencian.

Survey yang direlease oleh Center for Technology Innovation dari  The Brookings Institution, sebuah institusi nirlaba yang berpusat di Washington, DC. Menyebutkan bahwa dikalangan warga Amerika Serikat, 93% masyarakat mendapatkan update berita adalah melalui informasi online, dengan data 36 % didapatnya melalui situs-situs berita online, 35 % dari sharing media social, sisanya adalah melalui email, proses searching. Tingkat pertumbuhan sharing berita melalui media social itu sendiri meningkat hingga 51% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Survey tersebut juga memberikan data bahwa tingkat kepercayaan masyarakat pada media massa tradisional menurun drastis dari 53% pada era tahun 1990an hingga ke angka 33% di akhir tahun 2016 dan hal ini berbanding terbalik dengan media online yang meningkat dan berubah menjadi sumber utama berita di masyarakat.

Pentingnya Sinergi

Data dari situs https://wearesocial.com/ ataupun https://www.statista.com/ tentang statistika Indonesia dalam berbagai aspek aktivitas ruang siber selalu menunjukkan angka-angka yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Survey yang dilakukan oleh Center for Technology Innovation dari The Brookings Institution untuk warga Amerika Serikat, dapat menjadi indikasi pula untuk hasil dan kondisi serupa untuk warga Indonesia.

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam era “The Age of Disinformation”, maka kunci sederhananya adalah sinergi semua komponen yang aktif dalam ruang siber untuk memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi yang konstruktif bagi kemajuan rakyat dan bangsa Indonesia.

Sinergi tersebut diperlukan mengingat :

  • Berbagai instansi pemerintah telah bergerak untuk menjalankan program-program yang mengarah pada upaya untuk mengatasi hoax, disinformasi, fake news dan ujaran kebencian.
  • Berbagai lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat itu sendiri juga telah tergerak untuk menginisiasi berbagai upaya untuk mengatasi hoax, disinformasi, fake news dan ujaran kebencian.
  • Berbagai institusi pendidikan juga telah membuat berbagai program edukasi untuk meningkatkan literasi masyarakat sebagai upaya untuk mengatasi hoax, disinformasi, fake news dan ujaran kebencian.

Melalui sinergi tersebut maka diharapkan :

  • Terbangunnya persepsi yang sama untuk membangun ruang siber yang konstruktif bagi Indonesia yang lebih baik. Tanpa melihat partisan agama, organisasi, golongan, suku dan pilihan partai politik.
  • Terbangunnya solusi yang komprehensif dengan berbagai persfektif keberagaman keilmuan, pengalaman, profesi,serta  budaya dan wilayah di Indonesia.
  • Terbentuknya jejaring kerja dengan dengan jangkauan yang lebih luas yang mencangkup semua potensi masyarakat Indonesia dalam ruang siber dimanapun posisi keberadaannya secara fisik.
  • Terfasilitasinya upaya untuk resource sharing dari berbagai potensi sumberdaya yang dimiliki oleh Pemerintah, Swasta, Pendidikan dan Masyarakat luas untuk mendukung terbangunnya media sosial yang konstruktif.

Sinergi Siber Nusantara Untuk Media Sosial yang Konstruktif

Untuk kepentingan itu, maka diinisiasi sebuah gerakan yang diberinama Sinergi Siber Nusantara Untuk Media Sosial yang Konstruktif.

SiberNusantara

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.