Strategi Penanganan Hoax

Apakah informasi yang masuk dalam katagori disinformasi, hoax dan ujaran kebencian akan hilang dari ranah siber ? Maka, selama setiap orang masih memiliki berbagai kemudahan dalam hal memproduksi konten berita / informasi, selama teknologi penyebaran konten semakin mudah digunakan dan efektif dalam penyebaran informasi, maka selama itupula informasi/berita yang termasuk dalam katagori disinformasi, hoax dan ujaran kebencian masih akan terus kita temukan dalam ruang siber.

Untuk itu, maka ada 2 strategi utama yang sebaiknya dijalankan secara massif oleh berbagai pihak.

1.     Strategi Antisipatif untuk Deteksi dan Proteksi.

  • Memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menerapkan prinsip Think Before Click (Berfikir Sebelum Klik), untuk sekedar menahan jari jempol dari memforward berita yang diterimanya serta menerapkan beberapa langkah untuk mengenali apakah sebuah berita/ informasi tersebut termasuk kedalam diinformasi/hoax/ujaran kebencian ataukah tidak.
  • Membuka wawasan tentang dampak-dampak negatif dan positif dari informasi negatif maupun positif yang disebarkan dengan cepat melalui media sosial.
  • Memberikan pemahaman tentang berbagai karakteristik ruang siber. Sifat kehidupan dalam ruang siber, komunikasinya, potensi negative dan positifnya. Bahwa ruang siber adalah sebuah ruang kehidupan yang sifatnya antara “ ada dan tiada” namun memiliki dimensi yang erat dengan kehidupan nyata sehingga harus disikapi dengan bijak dan tepat.

2.     Strategi Responsif. Adalah langkah yang dapat dilakukan oleh setiap individu/komunitas apabila didapat sebuah berita/informasi/ujaran kebencian. Langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut ini :

  • Membiarkan berita tersebut.
  • Memberikan respon negatif dengan symbol tertentu (misalnya jempol kebawah, emosi tidak suka dan sejenisnya) untuk berita yang masuk dalam katagori diinformasi/hoax/ujaran kebencian. Sebaliknya memberikan respon positif dengan symbol tertentu (misalnya jempol keatas, emosi suka dan sejenisnya) terhadap berita/informasi yang positif atau memforward berita tersebut.
  • Memberikan klarifikasi atau mengingatkan yang menyebarkan informasi tersebut bahwa apa yang disampaikannya adalah tidak valid, keliru, tidak sesuai dengan fakta, atau klarifikasi lainnya yang relevan. Bila hal ini dilakukan, maka harus bersiap pula untuk menerima berbagai perlakuan yang mengarah pada katagori di-bully oleh netizen. Bila hal itu terjadi, hadapi perlakuan bully tersebut dengan kepala dingin, tidak mengganggapnya sebagai sesuatu yang serius dan masuk kedalam hati dan pikiran. Tanggapi dengan santai, penuh gurau dan canda.
  • Fokus untuk memproduksi konten-konten positif dan berprinsip untuk selalu menyebarkan kebaikan atau hal-hal yang bermanfaat bagi semua kalangan. Konten positif dapat diproduksi melalui berbagi bentuk media komunikasi, baik yang sifatnya text (tulisan/narasi), image (gambar/infografis), animasi ataupun audio dan video. Manfaatkan kemampuan individu yang beragam untuk mengekpresikan informasi positif yang ingin disampaikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.